Pemerintah Provinsi Jawa Timur-Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Madiun

DARURAT KEJUJURAN, HAMBATAN CIPTAKAN GENERASI EMAS

04 Desember 2019


Ketika kejujuran sudah dianggap sebagai slogan yang tidak penting dan terbuang jauh dari pendidikan karakter. Muncul kekhawatiran. Keresahan yang menjadi awal dari kehancuran bagi keberadaan organisasi besar maupun kecil di dunia pendidikan.

Saya ingin mengambil falsafah negara di sila pertama Pancasila yang kita cintai, yang menempatkan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa,’ karena awal tumbuh berkembang dari karakter jujur, disiplin, kerja keras, toleransi, saling menghormati, dan pantang menyerah semua ada di dalamnya. Disiplin, kerja keras, toleransi, saling menghormati, dan pantang menyerah sudah tidak diragukan lagi pada era milenial ini, namun satu kata “jujur” terkadang masih dilupakan dan dianggap sepele. Karena kebanyakan orang menghamba pada jabatan dan kejujuran dianggap menghambat karir sebuah pekerjaan.

Faktanya banyak diungkap media. Hampir setiap waktu kita dihadapkan dengan berita-berita kriminal yang dilakukan oleh para elite karena ketidak jujurannya. Baik di media telivisi maupun koran. Banyak yang tertangkap oleh yang berwenang akibat adanya penghianatan akan kejujuran. Kesedihan pun muncul, kala berita-berita tersebut sampai ke telinga siswa didik kami. Siswa era milenial yang dipersiapkan menjadi geneasi emas di masa mendatang. Kami khawatir jika mereka akan menganggap ketidakjujuran merupakan hal yang lumrah. Padahal itu bisa saja menggagalkan program pemerintah tentang Penguatan pendidikan karakter.

Karena penguatan pendidikan karakter timbul akibat situasi dan kondisi kejujuran yang masuk fase darurat. Hampir sulit menemukan contoh public figure yang memiliki kejujuran tinggi. Karena orang jujur di abad ini justru menjadi momok permasalahan atau musuh berat bagi mereka yang berkepentingan.

Saya mencontohkan berdasar cerita teman-teman, dan pengalaman. Beberapa kegiatan yang sudah banyak dikelola oleh pihak sekolah, hasilnya? Ternyata masih banyak yang belum bisa menginspirasi siswa. Akibatnya banyak sekolah yang hanya sekadar melaksanakan kegiatan tanpa adanya kontrol berkelanjutan.

Apa tanggapan siswa ? apakah pembiasaan semacam itu masih efektif sebagai media untuk menumbuh kembangkan keberhasilan dari program penguatan pendidikan karakter tersebut ? atau mungkin sebaliknya. Contoh tersebut bisa mempengaruhi siswa, bahwa ketidak jujuran merupakan hal yang tidak penting, dan muncul lagi kekhawatiran saya jika budaya tidak jujur justru dibawa mereka pada kehidupan selanjutnya. Kehidupan yang katanya era milenial dengan generasi emasnya.

Dari itu semua, saya hanya berharap semoga dana dari pemerintah yang fokus untuk program penguatan pendidikan karakter (PPK) dan Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) khususnya satuan pendidikan tingkat dasar tidak sia-sia. Semoga para pendidik ataupun elit di dunia pendidikan bisa menunjukkan bahwa sosok inspirator itu masih ada. Sosok yang memegang kejujuran demi generasi emas di masa mendatang.

Komentar
Kontak dan Bantuan
Berita Terkini

RAPAT DUKCAPIL KAB. BULELENG, UNTUK MEMUASKAN MASYARAKAT

DISDUKCAPIL siap melayani masyarakat Buleleng dengan inovasi baru di Tahun 2020

20/01/2020

SITUASI DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KABUPATEN BULELENG

Situasi di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Buleleng

17/01/2020

13 Praja IPDN Kunjungi Dukcapil Kobar

Sebanyak 13 orang praja dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) melakukan kunjungan ke Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar)

17/01/2020
Berita lainnya
Kata Kunci
Ayo ikuti survei SIPP Masukkan Anda sangat membantu kami dalam meningkatkan layanan situs SIPP. Ikuti Survei